Skip to content

Dilema Oemar Bakri

April 2, 2010

Bulan Maret 2010 yang lalu para siswa dari SD sampai dengan SMA mennjalani tahapan yang sangat penting dalam perjalanannya sebagai siswa. UN adalah salah satu gerbang untuk mencapai cita-cita (orang tua atau siswa itu sendiri). Berhasil atau tidaknya melewati UN menjadi sangat krusial baik bagi siswa itu sendiri maupun pihak pendidik yang mewakili perguruan, karena disitulah tercermin kemampuan akademis siswa dan kemampuan pendidik memberikan ilmu pengetahuan. Singkat cerita ‘harga diri’ dipertaruhkan dalam UN tersebut.

Dari setiap tahun UN selalu diwarnai dengan polemik, mulai dari perlu tidaknya dilakukan UN, bagaimana standar yang digunakan, dan isu bocornya soal ujian serta kendala teknis pelaksanaan lainnya (soal tertukar, soal kurang dsb).

Berhubungan dengan judul tulisan ini, akan disampaikan di sini apa yang menyebabkan Oemar Bakri mengalami sebuah dilema. Di sebuah SD di kaki gunung Oemar Bakri seorang kepala sekolah yang sudah bertugas selama 30 tahun sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pendidikan dan UN bagi anak didiknya. Dengan begitu antusias beliau memberikan pendidikan sesuai Dharma Bhakti seorang guru. Beliau merasa siswa sekarang sangat jauh berbeda dengan siswa 20 tahun lalu dari segi minat belajar dan motivasinya. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi hal tersebut mulai dari keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan itu sendiri (termasuk UN yang kita bahas ini lho).

Kita akan membicarakan masalah UN dan mekanisme pelaksanaannya yang menurut penulis menjadi salah satu penyebab turunnya minat/motivasi belajar siswa.
Dengan adanya UN standar ujian telah ditetapkan tanpa melihat potensi dan kemampuan masing-masing wilayah (ada dua dampak disini plus dan minus). Bagi sekolah yang memiliki tingkat kelulusan yang tinggi akan memberikan dampak yang bagus dan penghargaan dari pemerintah, namun sebaliknya bagi sekolah dengan tingkat kelulusan yang rendah. Para guru dan staf akan dicecar dan minta pertanggungjawaban oleh dinas pendidikan tanpa diajak memecahkan masalah yang dihadapi. “Memang Saudara ngajar apa saja disekolah, sampai ada yang tidak lulus seperti ini?” demikian mungkin kata-kata dari pemerintah.
Dari hal tersebutlah memunculkan dilema bagi Oemar Bakri. Demi sebuah penghargaan dan ogah dijadikan bulan-bulanan pemerintah yang tidak memikirkan kendala-kendala yang dihadapi Oemar Bakri dan kemungkinan akan dipindah ke sekolah yang lebih terpencil lagi, dengan segala upaya (penulis belum paham caranya) pelaksanaan UN selanjutnya menjadi ‘ternoda’ (soal bocor!! untung gak sampai banjir). Sayangnya lagi noda tersebut menjadi konsumsi publik dan didengar pula oleh siswa yang masih junior dengan penuh kegirangan.

Aha.. tahu cerita selanjutnya? si siswa junior ketika diinstruksikan belajar oleh orang tuanya dengan enteng menjawab “Ujian nanti soalnya juga pasti bocor, haha.. ngapain saya belajar pak?”

Betul-betul menjadi dilema bagi seorang Oemar Bakri yang masa kerjanya tinggal 2 tahun lagi.

Bagaimana menghadapi situasi ini, mengingat persaingan usaha semakin keras dan dengan adanya globalisasi siswa Indonesia yang akan menjadi pekerja, usahawan, maupun birokrat bisa menghadapi tantangan ke depan?

Semoga ditemukan sebuah cara untuk menghilangkan dilema Oemar Bakri tersebut dan mutu pendidikan semakin baik dan tentu saja bisa dijangkau masyarakat luas (miskin).

Penulis telah menjadi siswa sejak 1982.

From → Warung

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: