Skip to content

GEBOGAN: HOW HIGH CAN YOU GO?

November 28, 2009

Gebogan atau Pajegan adalah satu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian makanan (termasuk juga buah-buahan dan bunga-bungaan) yang disusun indah umumnya dijunjung oleh ibu-ibu atau gadis-gadis Bali untuk dibawa dan ditempatkan di pura dalam rangkaian upacara Panca Yajna (Piodalan dan sebagainya). Bila sebuah susunan makanan (baik jajan, buah-buahan) dan bunga-bungan dibuat menyerupai Gebogan atau Pajegan maka hendaknya tidak memakai sampian dan porosan. Adapun susunan makanan dan bunga-bungan seperti Gebogan dan Pajegan diberi nama Gagebogan dan Papajegan. –berdasarkan Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu (I-XV) ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma Indonesia.

 

Gebogan

Gebogan

“..yen tiang ngae gebogane ane cenik gen.., dugas odalan ipidan takonang teken jro mangku, tusing lek ngejang gebogane di malu? Tiang mesaut, Ngujang tiang lek ulian gebogan tiange cenik jro mangku, amongken ja tiang nyidayang asapunika tiang ngae aturan gebogan, bandingang teken tiang merebat ajak kurenan titiang.. ”

Pernyataan itu mencuat dari percakapan seorang ibu rumah tangga dengan ibu-ibu lainnya yang sedang mempersiapkan gebogan/pajegan, dalam rangkaian suatu upacara manusa yadnya. Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: “..kalau saya membuat gebogan yang kecil saja, waktu upacara kemarin hari jro mangku bertanya, tidakkah malu memajang gebogan (kecil) seperti itu? Saya menimpali, untuk apa saya malu, demikian kemampuan saya maka hanya demikian yang saya haturkan, daripada harus bertengkar dengan suami saya..”.

Bagi umat Hindu Bali, Gebogan merupakan simbol persembahan dan rasa syukur pada Tuhan/Hyang Widhi, karenanya tidak dapat dibuat sembarangan, tetapi diperbolehkan misalnya untuk perlombaan kesenian (tidak memakai sampian dan porosan) tanpa ada makna apapun dari sisi keagamaan.

Kembali pada pernyataan Ibu tadi. Sekilas terdengar biasa-biasa saja, lalu apa masalahnya? Permasalahan yang menggelitik bagi saya ada tiga. Pertama, masih saja ada seorang jro mangku (pendeta suci) mempertanyakan keikhlasan umatnya lewat tinggi rendahnya gebogan. Kedua, gebogan mampu memicu pertengkaran rumah tangga. Ketiga, ternyata banyak ibu-ibu yang menyadari bahwa persembahan kepada Tuhan tidaklah linier, semakin tinggi gebogan semakin tinggi rasa persembahan semakin tinggi pahala. Faktanya adalah, pemikiran mengenai kesederhanaan dan keikhlasan masih dikalahkan oleh rasa malu terutama dari omongan orang-orang yang seolah-olah menyindir, jika persembahan gebogan miliknya tidak setinggi yang lain.

Lalu apa pula hubungan persembahan terhadap Tuhan dengan pertengkaran suami istri? Utamanya di desa, di mana hubungan kekerabatan dan adat masih sangat kental, riuhnya berbagai upacara agama memaksa tiap keluarga untuk pintar-pintar mengalokasikan budget, kalau tidak berutang. Hubungan jadi tidak harmonis dengan mengkambing hitamkan Tuhan, karena manusia harus berutang untuk dapat melakukan pemujaan. Serunya lagi, pengeroposan ini didukung oleh jro mangku, seorang yang disucikan dan dihormati, malah sangat menduniawi tanpa pengetahuan agama dan filosofi yang baik.

Sesungguhnya suatu ironi melihat gebogan-gebogan tinggi menghiasi suatu upacara berjejer dengan indahnya. Tapi apa boleh buat, apa yang terlihat seperti itulah keadaannya, yang penting penampilan, apalah artinya makna. So, how high can you go?

From → Warung

One Comment
  1. Penuh dengan filosofi yang berguna bagi manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: