Skip to content

Kekhilafan yang Harus Diluruskan

May 19, 2009

AGEN properti yang juga seorang developer, Terje H. Nilsen, mengimbau Bali seyogianya bertahan dengan jati dirinya yang kini menjadi daya tarik. Terutama soal peradaban dan kebudayaannya yang tinggi yang menjadi faktor pembeda dengan destinasi lain. ‘Survei pariwisata oleh berbagai institusi internasional selalu menyajikan hasil: alasan pertama wisatawan dunia tertarik datang ke Bali karena manusia dan budayanya,’ ujar Nilsen.

Beberapa media terkemuka dunia seperti Travel and Leisure dan Time yang beberapa kali menempatkan Bali sebagai the best destination in the world, dalam jajak pendapatnya mengakui bahwa faktor manusia dan budayalah yang membuat Bali menjadi the best. ‘Makanya kita harus berpegangan pada hal itu. Jangan lagi mencari-cari, padahal sudah ada semua dalam nilai-nilai lokal Bali,’ ujar pria asal Norwegia ini.

Salah satu keterpesonaan orang asing pada Bali adalah kesetiaannya pada tradisi dan teguh memegang aturan yang diwariskan leluhur. Salah satunya adalah pembatasan ketinggian bangunan yang tak boleh lebih dari pohon kelapa (ekuivalen dengan 15 meter). Dalam pandangan Nilsen, pembatasan itu tidak hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga ekologis.

Ketika orang datang ke Bali, pandangan terasa begitu lapang dan tinggi bangunan tidak mengganggu pemandangan. Itu membuat orang tertarik. ‘Bisa dibayangkan kalau nanti di Bali yang kecil ini dibangun rumah sakit, kampus, sekolah, pasar swalayan setinggi 33 meter sebagaimana diusulkan itu. Belum lagi kalau pembolehan terhadap bangunan khusus, nantinya diikuti oleh hotel dan lainnya,’ ujar Nilsen.

Nilsen berharap, Bali jangan mencederai dirinya sendiri dengan membuat sesuatu yang mengingkari jati dirinya. Dia mengingatkan, Bali bisa belajar dari beberapa destinasi di Eropa Selatan, yang mencoba mengembangkan hal-hal baru yang keluar dari ciri khasnya, justru akhirnya ditinggalkan baik oleh wisatawan maupun investor karena tidak menarik lagi.

Dia juga mengambil contoh apa yang terjadi di sebuah kota kecil di negaranya, Norwegia. Kota itu mengandalkan bangunan-bangunan tua sebagai objek wisata yang digandrungi turis. Pemerintah dan stakeholders pariwisata setempat menyadari itu, sehingga membuat bangunan — kendati untuk kepentingan pribadi — sangat selektif. ‘Untuk minta izin ganti jendela saja, sulitnya minta ampun,’ ujar Nilsen.

Investor yang masuk ke Bali selama ini dinilainya nyaris tanpa seleksi. Ada yang membangun sesukanya, hanya memikirkan return investment dengan mempersetankan berbagai kearifan lokal. Ini terjadi karena hukum tidak tegak dan ada kompromi. Muncullah IMB di jalur hijau atau dekat pura. ‘Terus terang saya sangat prihatin,’ ujar pria asal Norwegia ini.

Investor asing, katanya, justru lebih hati-hati. Mereka biasanya bertanya dulu, apa dan di mana yang boleh dibangun dengan pola pengembangan yang ramah lingkungan (eco friendly). Kalau dapat informasi yang ‘aneh-aneh’, mereka memilih tidak berinvestasi. ‘Investor asing yang betul-betul investor, pasti sudah mengetahui aturan global tentang investasi. Uni Eropa malah mewajibkan mulai 2016 pembangunan resort harus ramah lingkungan,’ ujar Nilsen.

Selain persoalan tata ruang, dia juga menyoroti ketimpangan kepemilikan aset pariwisata Bali yang saat ini sekitar 85 persen dikuasai oleh orang di luar Bali. Baginya ini merupakan kondisi rawan yang suatu saat bisa memicu konflik sosial. Di mana orang Bali akan terusir dari tanah kelahirannya. ‘Kalau kita tidak waspada, hal itu bisa saja terjadi,’ Nilsen mengingatkan.

One Comment
  1. natahbali permalink

    Ah si Mister ini bisa aja. Menjaga kekhasan Bali biar dagangannya laku..

    Tapi terima kasih untuk Mr. Nilsen atas pandangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: