Skip to content

I Sepit Terlantar di Rumah Sakit

March 2, 2009

“Sakit itu mahal!”
“Pelayanan kesehatan hanya bisa diperoleh orang kaya!”
“Untuk bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit harus punya ‘kenalan’ di rumah sakit itu”

Demikian kata-kata yang terbersit di benak I Sepit ketika mengingat saat-saat anaknya menderita sakit thypus dan hasil rujukan puskesmas di kampungnya mengharuskannya untuk dirawat inap di rumah sakit.

Waktu itu di awal bulan Januari, ketika sampai di rumah sakit I Sepit menjadi kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan sementara anaknya harus segera mendapat perawatan.

“Pak, pak, anak saya sakit thypus dan harus dirawat, bagaimana caranya untuk dapatkan kamar?” tanya I Sepit kepada petugas di rumah sakit.
“Bapak harus isi formulir ini dulu, kemudian tunggu sampai ada pemberitahuan apakah masih ada kamar yang kosong” jawab petugas.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya diinformasikan bahwa kamar telah penuh dan anak I Sepit tidak bisa opname di rumah sakit tersebut dan disarankan untuk mencari rumah sakit lainnya.

Akhirnya I Sepit berjalan gontai penuh kekhawatiran akan nasib anaknya menuju tempat parkir sepeda motornya. Di tengah perjalanan tersebut ia berjumpa dengan pria berpakaian rapi dan ternyata adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Karena terlihat putus asa akhirnya dokter baik hati ini mencoba untuk bertanya.

“Kenapa bapak terlihat putus asa seperti itu? Kalau boleh tahu, kesusahan apa kira-kira yang bapak alami?” tanya dokter itu.
“Anak saya sakit thypus dan berdasarkan rujukan puskesmas di desa harus di rawat inap, tapi sampai di sini tidak ada kamar tersedia” cerita I Sepit.
“Coba saya bantu pak, mudah-mudahan masih ada kamar.” sambung pak dokter.

Setelah beberapa saat kemudian pak dokter kembali dan menyampaikan bahwa anaknya I Sepit memperoleh kamar untuk rawat inap di rumah sakit tersebut. Betapa senangnya hati I Sepit bahwa anaknya akan mendapat pertolongan, tak lupa ia berterima kasih kepada pak dokter tersebut.

Selama masa rawat inap tersebut I Sepit mendapat informasi bahwa akan sangat susah untuk mendapatkan kamar di rumah sakit apabila tidak mempunyai kenalan di rumah sakit, dan ia jadi ingat sewaktu mendaftarkan anaknya, padahal pada saat yang hampir bersamaan ia memperoleh informasi kamar sudah penuh tapi kenapa saat seorang dokter menawarkan bantuan dengan cepat mendapatkan kamar??

“Ah mungkin data yang dipegang petugas itu tidak akurat.” pikir I Sepit mencoba berpikiran positif — walaupun tidak tidak lebih dari 15%.

Ternyata benar apa yang dikatakan masyarakat kelas bawah seperti saya ini, sakit menjadi sangat mahal sekarang ini. Perawatan yang memadai menjadi di awang-awang ketika tidak mengerti ‘prosedur’ dan tidak ada persamaan hak. Atau inikah yang disebut phala karma, karena karma yang menjadi sebab miskin dan tidak punya kenalan membawa akibat tidak mendapatkan hal yang layak walaupun hanya perawatan kesehatan? Pantaslah warga yang merasa membayar pajak yang katanya ada bagian untuk pelayanan kesehatan masyarakat, dan pantas pula mereka mengumpat dan berkata sinis kepada petugas pajak yang dikira mengambil uang mereka.

Dari seorang pasien RSJ komplikasi stroke sangat ringan.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: