Skip to content

Besuk ala I Semprong

February 6, 2009

Siang hari itu tampak I Semprong dengan wajah yang keletihan dan mata sayu kurang tidur duduk di lantai di samping kamar nomor 217 sebuah rumah sakit di Denpasar menjaga bapaknya yang sedang opname.

Tak lama kemudian I Sepit, teman sekolahnya semasih SD datang mengampiri dan menanyakan keadaannya dan bapaknya sang pasien.

Kenken itu wajahmu Prong, kok kelihatan kiap sekali? Apakah semalam bapakmu perlu perawatan sehingga kamu bergadang?” tanya I Sepit.

“Weh.. Ada kamu Sepit.. Datang sama siapa? Aku bukannya bergadang karena merawat bapakku, tapi menemani tamu yang besuk semalam…”

“Memang yang datang siap Prong?”

“Kemarin malam datang rombongan krama banjar di kampung sebanyak 15 orang yang ingin besuk bapak, bukannya aku menolak maksud baik mereka yang ingin mengungkapan simpati tapi aku rasa ungkapan simpati mereka jadi kurang pas”

“Kurang pas gimana maksudmu Prong?”

“Coba kamu bayangin, mereka datang beramai-ramai masuk ke ruangan pasien bergerombol, kemudian satu persatu bertanya kepada bapak mengenai keadaannya. Sudah menjadi tradisi dan ungkapan simpati, mereka membawakan minuman, penganan untuk pasien ada yang berupa roti, pisang, dan yang aneh diantaranya adalah snack yang tidak diperbolehkan oleh dokter. Setelah itu mereka duduk di lantai sambil ngobrol yang gak jelas, uniknya lagi mereka sengaja membawa karpet! Ngobrol kesana kemari sambil mengingat-ingat kapan terkahir mereka datang ke Denpasar, siapa saja yang pernah mereka besuk sebelumnya dan yang lain-lain. Setelah beberapa kali mendapat peringatan oleh satpam rumah sakit bahwa jam besuk sudah habis, akhirnya jam 10 malam mereka pamit pulang.”

“Trus gak pasnya dimana?” tanya I Sepit memperjelas.

“Rasa simpati memang bagus dan kadangkala pasien juga memerlukannya untuk kesembuhannya, tapi mereka pasti sudah tahu bahwa pasien juga perlu istirahat, kalau mereka besuk beramai-ramai kemudian mengobrol sampai jam 10 malam bagaimana pasein bisa istirahat. Akupun sebagai pihak yang dibesuk gak bakalan enak hati kalau nyama banjar kutinggal tidur sedangkan mereka masih ada di ruangan pasien. Kemudian hal lain yang perlu diperhatikan adalah barang bawaan untuk pasien. Bukannya aku gak mau menerima barang bawaan mereka, aku justru berterima kasih”.

“Trus bagaimana sebaiknya para pembesuk itu?” tanya I Sepit.

“Pembesuk seharusnya mentaati peraturan dari rumah sakit karena hal tersebut akan mempengaruhi keadaan pasien dan juga keamanan rumah sakit itu sendiri. Tidak semua pasien senang dibesuk, kadang kala mereka ingin suatu ketenangan agar bisa istirahat dan proses penyembuhan lebih cepat. Itulah maksud dari peraturan jam besuk dan harus dituruti, namun demikian apabila sangat mendesak dan penting sekali agar bisa diberikan kebijaksanaan oleh rumah sakit.”

“Kemudian mengenai barang bawaan (biasanya pembesuk membawa barang berupa makanan dan minuman yang diberikan kepada pasien atau keluarga yang menunggu–pen), menurutku apabila mereka ikhlas memberikan sesuatu alangkah lebih baik dan lebih bermanfaat apabila diberikan dalam bentuk uang, bukannya matre ya.. tapi alasanku adalah kalau diberikan dalam bentuk makanan dan minuman belum tentu pasien boleh memakan atau meminumnya jadi kan mubasir?! Tidak demikian halnya apabila diberikan uang karena dengan uang pasien bisa menebus obat yang sangat diperlukannya atau membeli makanan yang dianjurkan oleh dokter untuk mempercepat kesembuhan” papar I Semprong dengan berapi-api.

“Namun…” lanjut I Semprong, “Apapun yang diberikan oleh pembesuk akan diterima dengan senang hati oleh pasien..”

“Ooo, aku mengerti sekarang Prong…” kata I Sepit manggut-manggut.

“Tapi Prong.., I Cang pernah dicuekin oleh seorang warga banjar (nama dirahasiakan oleh I Sepit) karena tidak sempat besuk ke rumah sakit waktu anaknya melahirkan karena dioperasi di rumah sakit, padahal waktu itu aku nitip uang sebagai wujud simpati, tapi tetep saja aku dipisuhin” sergah I Sepit.

“Yah kalau itu tergantung pribadi masing-masing Pit, memang susah menilai karakter masing-masing orang, celebingkah beten biu, don sente don lemo, gumi lingah ajak liu ade kene ade keto” jawab i Semprong.

” Jadi sebaiknya bisa menilai keadaan dan peraturan jangan dilanggar juga..” sambung I Semprong

Akhirnya percakapan di lorong rumah sakit tersebut terhenti dan selesai ketika bapaknya I Semprong diperiksa oleh dokter dan dinyatakan sehat untuk kemudian diijinkan pulang.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: