Skip to content

Kawasan Pegunungan diserbu Villa

May 2, 2008

Proyek vila makin menyeruak ke kawasan pegunungan. Ada pembangunan dua vila baru yang dinilai kontroversial. Keduanya berada di kawasan penyangga dan resapan air. Proyek pertama berada di lereng di atas Danau Buyan, tepatnya di Banjar Yeh Mas dan Sari Kauh, Desa Pancasari, Buleleng. Proyek yang direncanakan seluas 25 ha itu sama sekali belum mengantongi izin. Kedua, vila yang ada di Wangaya Betan, Penebel, Tababan. Proyek di kaki Gunung Batukaru itu telah mengantongi izin dan telah dilakukan peletakan batu pertama oleh Bupati Tabanan. Namun, kalangan anggota Dewan di Tabanan malah bertanya-tanya, sejauh mana proyek itu telah dilakukan kajian. Sementara RTRW yang semestinya menjadi guiding telah tujuh tahun dibahas hingga kini tak selesai-selesai. Adakah ini strategi meloloskan proyek tak ramah lingkungan?

PROYEK vila di dekat Danau Buyan telah dikerjakan sejak beberapa bulan lalu. Pemkab Buleleng sama sekali belum mengambil tindakan, walaupun jelas-jelas mereka belum mengantongi IMB.

Kepala Bidang IMB Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Buleleng I Wayan Suetha, Rabu (23/4) kemarin, mengatakan pihak investor sudah mengajukan permohonan IMB dan pihaknya sudah berkali-kali melakukan survai ke lokasi proyek. ”Dari hasil survai, pihak investor masih belum melengkapi sejumlah persyaratan sehingga IMB belum bisa dikeluarkan,” katanya.

Suetha mengatakan daerah Desa Pancasari sejauh ini masuk dalam kategori Objek Daya Tarik Wisata Khusus (ODTWK) sehingga pembangunan sebuah sarana wisata di daerah itu harus memenuhi ketentuan-ketentuan khusus agar tak merusak alam yang menjadi daya tarik wisata itu sendiri. Namun, ia mengaku tak mengetahui secara jelas mengenai ketentuan-ketentuan tersebut. ”Yang jelas, pembangunan vila masih dibolehkan di ODTWK, namun vila yang seperti apa bentuknya, hal itu harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan khusus,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Buleleng Ida Bagus Suarjana mengatakan investor vila di Desa Pancasari itu memang sudah mengajukan materi kajian dampak lingkungan. Setelah menerima pengajuan itu, pihaknya sempat melakukan survai ke lokasi proyek. Hasil survai ditemukan sejumlah hal yang belum sesuai dengan hasil kajian, sehingga investor diminta melakukan perbaikan-perbaikan. ”Untuk itu kami sudah bersurat kepada investor yang isinya meminta investor membangun sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang wilayah),” katanya.

Sementara itu, perwakilan dari investor proyek tersebut, I Gede Sutrisna Mulyawan, mengatakan pihaknya sudah mengajukan permohonan semua perizinan yang harus dilakukan untuk proyek tersebut. Menurutnya, sebagai warga yang berasal dari Pancasari, ia tetap memiliki komitmen untuk memperhatikan lingkungan di daerah tersebut. Misalnya, areal proyek itu luasnya mencapai 25 hektar, namun yang dibanguni hanya 5 hektar. Sedangkan sisanya seluas 20 hektar akan ditanami pepohonan.

Disorot Dewan

Sementara itu, pembangunan vila di Wangaya Betan disorot anggota DPRD Tabanan. Mereka menyoroti pembangunan vila dan resor di Tabanan seolah tak terkendali. Mulai dari daerah pegunungan hingga pantai berdiri vila yang sebagian dibangun tanpa melengkapi izin terlebih dahulu.

Yang terbaru, Bupati Tabanan meletakkan batu pertama di Vita Life Resort di Banjar Wangaya Betan, Mangesta, Penebel yang lokasinya hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari Pura Luhur Batu Panes. Pembangunan ini sebelumnya ditentang oleh sebagian warga sekitar karena dikhawatirkan akan mematikan sumber-sumber air, terlebih beji setempat yang menghasilkan air panas. Selain itu lokasi ini sebelumnya merupakan jalur hijau berupa hamparan sawah.

Anggota DPRD Tabanan I Kadek Oka Arianta menyesalkan turunnya beberapa izin vila yang tidak memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Dikatakannya, setiap investasi semestinya didahului dengan pengkajian yang matang agar tidak menimbulkan dampak lingkungan di masa mendatang. Selain itu, kontribusi bagi PAD harus jelas. Kalangan Dewan mengaku tidak tahu-menahu bagaimana proses perizinan proyek resor di Wangaya Betan itu karena tidak pernah diajak berkoordinasi.

Sementara itu, Ketua DPRD Tabanan Wayan Sukaja menyatakan pihaknya memang pernah mengeluarkan rekomendasi menyetujui proyek sepanjang tidak melanggar aturan yang ada seperti jalur hijau dan faktor lingkungan.

Banyak yang menyayangkan proyek resor di Wangaya Betan lolos. Pasalnya, daerah tersebut merupakan daerah resapan yang merupakan persawahan subur dengan mata air yang melimpah. Selain itu, keunikan pada lokasi tersebut adalah adanya mata air panas Belulang. Keberadaan Pura Luhur Batu Panes seolah membuat pemandangan eksotis pedesaan menjadi incaran para investor.

Seperti dijelaskan sebelumnya oleh Direktur PT Bali Permata Indah Mr. Rony Tong, pembangunan itu akan memakan lahan seluas 18 hektar, dengan pembangunan hotel, sembilan vila internasional yang didukung area restoran, area seminar, wedding chapel serta fasilitas lainnya. Mr. Rony Tong saat peletakan batu pertama Jumat (18/4) lalu mengaku telah mendapatkan izin dari Pemkab Tabanan, sehingga pembangunannya akan mulai dilaksanakan dari bulan Juni mendatang hingga tahun 2010.

Banyak pihak yang memandang pembangunan yang tidak terkendali di Tabanan karena mengambangnya Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hingga kini ranperda tersebut belum juga rampung, padahal merupakan warisan dari dua periode DPRD sebelumnya. Ranperda  yang telah karatan dan terkatung-katung hampir tujuh tahun ini ini dikembalikan lagi ke eksekutif. Sebegitu beratkah menyusun Ranperda RTRW sehingga dalam kurun waktu hampir tujuh tahun belum juga kelar? Ataukah sebuah unsur kesengajaan agar mudah memasukkan proyek pada daerah yang dikehendaki?

Investasi adalah target utama ”raja” kecil di kabupaten. Artinya, investasi mengalahkan semuanya. Akibatnya pelestarian lingkungan diabaikan. Perda tidak dijadikan rambu-rambu. Kerusakan alam akibat kesalahan pembangunan di masa lalu tidak dijadikan cermin. Semuanya serba oke.

Carut-marutnya pemanfaatan ruang hijau khususnya di kawasan pegunungan menimbulkan keprihatinan dari wakil rakyat yang berkantor di Renon. Pembangunan vila di Danau Buyan dan Wangaye Betan, Tabanan telah mengusik ketenangan anggota DPRD Bali.

Sekretaris Komisi III DPRD Bali Made Arimbawa serta anggotanya, Agus Suradnyana dan Dauh Wijana, Kamis (24/4) kemarin mengisyaratkan segera mengadakan dengar pendapat dengan Bappedalda, Dinas PU dan Dinas Pariwisata terkait masalah ini. Selanjutnya pelanggaran atas RTRWP diharapkan ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten.

Ditegaskan Arimbawa, RTRWP adalah perda yang mengatur secara umum yang detailnya dijabarkan oleh perda detail rencana tata ruang kabupaten. Pihaknya berharap kontrol itu dilakukan DPRD bersama instansi pengawas terkait di pemkab. ”Pemprop dan pemkab adalah satu-kesatuan. Hanya kewenangan dan tugas yang berbeda antara propinsi dan kabupaten,” ucap mantan Ketua DPRD Tabanan ini.

Gubernur Bali juga diharapkan melakukan koordinasi dan sinkronisasi dengan pemerintah kabupaten atas pelanggaran perda tata ruang tersebut. ”Kalau perlu melalui koordinasi dengan bupati, gubernur berani menegur pejabat daerah yang jelas-jelas telah melanggar perda tata ruang,” katanya.

Menurut Agus Suradnyana, Gubernur Bali sangat dimungkinkan mengambil sikap tegas kepada pejabat di bawahnya dengan merujuk UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Gubernur Bali berwenang memotong anggaran untuk pengkajian amdal dan izin lainnya karena verifikasi APBD kabupaten ada di Pemprop Bali.

Rektor Unud Prof. Dr. Made Bakta sangat menyesalkan ketidaksinkronan pemerintah propinsi dengan kabupaten. Di satu sisi pemerintah propinsi memiliki komitmen terhadap lingkungan dengan melakukan pencermatan atas amdal proyek. Sementara langkah penyelamatan efektif dan signifikan terhadap pembangunan proyek yang melanggar perda tidak ada. Di sisi lain, pemerintah kabupaten terkesan tak peduli dan membiarkan proyek vila itu berjalan tanpa ada pengawasan. ”Ini sangat menyedihkan daerah penyangga dan tangkapan air terus dirusak. Proyek vila sudah dibangun tetapi izin belum ada,” katanya sedih.

Pihak Bapedalda Bali menyatakan vila di Danau Buyan belum memiliki izin. Sementara kajian amdal baru tahap penyampaian informasi TOR (term of reference). ”Mestinya proyek vila di Danau Buyan belum dimulai karena belum ada izin,” kata Kabid Pengawasan dan Pengendalian Bappedalda Bali Ir. AA Alit Sastrawan, Rabu (23/4) lalu.

Karena itu, anggota Komisi III DPRD Bali Dauh Wijana meminta instansi terkait menyetop dulu pembangunan vila tersebut. Jika dipaksakan akan melabrak Perda Nomor 3 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Perda Nomor 4 Tahun 2005 tentang Lingkungan. Dewan memandang proyek vila mengancam kelestarian kawasan hutan lindung dan daerah tangkapan air serta kawasan suci. ”Ini kawasan utama daerah aliran sungai di Bali yang sangat dilindungi dan dijaga kesuciannya,” katanya.

Sementara itu, dari hasil kajian Bappedalda Bali, Danau Buyan tingkat pendangkalan paling signifikan dibandingkan Danau Beratan dan Danau Tamblingan. Namun, Sastrawan tak merinci angka penurunan muka air danau itu. Karena itu apa pun pembangunan di sekitar danau tersebut, sangat penting dilakukan pengkajian agar tak kembali air danau menurun. Untuk itu pihak Bapedalda Bali sepakat langkah penyelamatan sumber mata air jauh lebih penting untuk masyarakat Bali ketimbang membangun proyek vila untuk keuntungan segelintir orang. ”Jika signifikan mengganggu kawasan suci dan pendangkalan danau, tentu amdalnya tak akan diproses dan proyek vila itu mesti dilarang pembangunannya,” katanya. (029)Sumber Bali Post.

From → Natah Tabanan

One Comment
  1. Bali tidak seperti dulu lagi. sudah kebanyakan villa memenuhi Bali. Bali sekarang bukan Bali yang dulu.

    Visit: http://www.tanahlot.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: