Senganan tahun 198+

October 22, 2009

Sebuah kenangan dari pengalaman yang kuperoleh selama belasan tahun di Desa Senganan (Kanginan dan Kawan), aku terlahir di Desa Senganan Kawan tapi berdomisili di Desa Senganan Kanginan. Desa yang telah memberikan tempat padaku untuk berlajar, dan bersuka duka. Desa Senganan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Tabanan atau 50 km sebelah utara Denpasar.
Pada tahun 198+ tersebut samar-samar aku ingat keadaan jalanan desa yang masih sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor, jalan raya yang berlapis aspalt tidak sepanjang sekarang, ada bagian tertentu yang masih berupa jalan tanah terutama jalan yang menghubungkan banjar atau dusun dalam satu desa.

Sekolah
Mengawali kegiatan belajar, aku masuk sebagai murid di taman kanak-kanak (TK) Bina Kumara, semacam playgroup jaman sekarang. Berlokasi di kantor Desa Senganan sekarang. Saat itu TK Bina Kumara ini hanya satu-satunya taman kanak-kanak di kebendesaan Senganan, belakangan ini telah bermunculan Bina Kumara I, II dst di masing-masing banjar.
Aku lupa bagaimana kejadian pendaftaran siswa baru ketika itu, yang jelas aku didaftarkan oleh bapak. Yang kuingat adalah proses ‘pendidikan’ sudah berlangsung. Setiap pagi aku datang ke ‘taman’ tanpa diantar karena letaknya tidak jauh dari tempat tinggal, namun demikian ada pula yang setiap hari diantar oleh orang tuanya dan harus ditungguin sampai jam ’sekolah’ usai kalau tidak dia akan menangis dan tidak mau belajar. Guru TK kami ada dua orang ibu guru muda yang sabar dan telaten mengajarkan kami bernyanyi dan pengetahuan dasar lainnya. Nyanyian yang masih aku ingat adalah …jangan buang kulit pisang sembarangan, di sana ada adik yang baru mulai bisa berjalan..dst. kemudian hal lainnya yang masih kuingat satu persatu ke depan kelas menyebutkan nama-nama hari, nama-nama bulan, dan setiap jam pulang kita diwajibkan untuk berbaris terlebih dahulu kemudian berhitung dari siswa paling depan sampai terakhir baru kemudian keluar satu persatu.

bersambung..


Cara Download Data Saham Bursa Efek Jakarta (BEJ) melalui Yahoo! Finance

August 11, 2009

Bagi yang tertarik dengan penelitian bursa saham, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memperoleh data yang diperlukan. Cara paling efektif tentunya adalah datang langsung ke bursa, misalnya ke Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan kemudian melalui prosedur tertentu dapat meminta data yang diinginkan.

Namun demikian, sebenarnya kita juga dapat memperolehnya melalui internet di Yahoo! Finance pada alamat http://finance.yahoo.com.

Untuk memperoleh data IHSG Bursa Efek Jakarta, misalnya, dapat dilakukan melalui langkah berikut:

1. Buka http://finance.yahoo.com
2. Klik pada “Market Stats” [ada di bagian kiri bawah ...]
3. Pada Indices pilih “World”
4. Pada area Major World Indices pilih “Asia/Pacific”
5. Klik pada simbol ^JKSE

Akan ada pilihan “historical prices” dimana kita dapat memperoleh IHSG berdasarkan harian, mingguan, bulanan atau tahunan pada kurun waktu yang kita inginkan.

Jika kita ingin memperoleh data individu saham, maka setelah langkah (5), lanjutkan sebagai berikut:

6. Pada area More on ^JKSE, pilih “Components”
7. Pilih saham, misalnya “AALI.JK”
8. Klik pada “historical prices” dan lakukan filtering data sesuai periode yang diinginkan.

Jika output yang diminta sudah keluar di layar, maka di bagian bawah akan ada fasilitas untuk men-download data dimaksud dalam format csv (yang kemudian dapat dibuka dengan menggunakan program spreadsheet atau program analisa data lainnya …).

Beberapa tips tambahan:
Cara mencari kelompok saham tertentu, misalnya kelompok saham manaufaktur, maka bisa terlebih dahulu dilihat di berbagai publikasi. Informasi ini misalnya dapat diperoleh di harian Kompas atau Bisnis Indonesia, kemudian catat kode saham-saham manufaktur tersebut yang terdiri atas empat huruf, misalnya “SMAR”. Kemudian di YahooFinance pergunakan kode-kode saham tersebut dengan menambahkan “.JK” di belakangnya, misalnya “SMAR” tercatat di YahooFinance sebagai “SMAR.JK”.

————————————-

Semoga bermanfaat …

Re-post dari http://strategika.wordpress.com


Kekhilafan yang Harus Diluruskan

May 19, 2009

AGEN properti yang juga seorang developer, Terje H. Nilsen, mengimbau Bali seyogianya bertahan dengan jati dirinya yang kini menjadi daya tarik. Terutama soal peradaban dan kebudayaannya yang tinggi yang menjadi faktor pembeda dengan destinasi lain. ‘Survei pariwisata oleh berbagai institusi internasional selalu menyajikan hasil: alasan pertama wisatawan dunia tertarik datang ke Bali karena manusia dan budayanya,’ ujar Nilsen.

Beberapa media terkemuka dunia seperti Travel and Leisure dan Time yang beberapa kali menempatkan Bali sebagai the best destination in the world, dalam jajak pendapatnya mengakui bahwa faktor manusia dan budayalah yang membuat Bali menjadi the best. ‘Makanya kita harus berpegangan pada hal itu. Jangan lagi mencari-cari, padahal sudah ada semua dalam nilai-nilai lokal Bali,’ ujar pria asal Norwegia ini.

Salah satu keterpesonaan orang asing pada Bali adalah kesetiaannya pada tradisi dan teguh memegang aturan yang diwariskan leluhur. Salah satunya adalah pembatasan ketinggian bangunan yang tak boleh lebih dari pohon kelapa (ekuivalen dengan 15 meter). Dalam pandangan Nilsen, pembatasan itu tidak hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga ekologis.

Ketika orang datang ke Bali, pandangan terasa begitu lapang dan tinggi bangunan tidak mengganggu pemandangan. Itu membuat orang tertarik. ‘Bisa dibayangkan kalau nanti di Bali yang kecil ini dibangun rumah sakit, kampus, sekolah, pasar swalayan setinggi 33 meter sebagaimana diusulkan itu. Belum lagi kalau pembolehan terhadap bangunan khusus, nantinya diikuti oleh hotel dan lainnya,’ ujar Nilsen.

Nilsen berharap, Bali jangan mencederai dirinya sendiri dengan membuat sesuatu yang mengingkari jati dirinya. Dia mengingatkan, Bali bisa belajar dari beberapa destinasi di Eropa Selatan, yang mencoba mengembangkan hal-hal baru yang keluar dari ciri khasnya, justru akhirnya ditinggalkan baik oleh wisatawan maupun investor karena tidak menarik lagi.

Dia juga mengambil contoh apa yang terjadi di sebuah kota kecil di negaranya, Norwegia. Kota itu mengandalkan bangunan-bangunan tua sebagai objek wisata yang digandrungi turis. Pemerintah dan stakeholders pariwisata setempat menyadari itu, sehingga membuat bangunan — kendati untuk kepentingan pribadi — sangat selektif. ‘Untuk minta izin ganti jendela saja, sulitnya minta ampun,’ ujar Nilsen.

Investor yang masuk ke Bali selama ini dinilainya nyaris tanpa seleksi. Ada yang membangun sesukanya, hanya memikirkan return investment dengan mempersetankan berbagai kearifan lokal. Ini terjadi karena hukum tidak tegak dan ada kompromi. Muncullah IMB di jalur hijau atau dekat pura. ‘Terus terang saya sangat prihatin,’ ujar pria asal Norwegia ini.

Investor asing, katanya, justru lebih hati-hati. Mereka biasanya bertanya dulu, apa dan di mana yang boleh dibangun dengan pola pengembangan yang ramah lingkungan (eco friendly). Kalau dapat informasi yang ‘aneh-aneh’, mereka memilih tidak berinvestasi. ‘Investor asing yang betul-betul investor, pasti sudah mengetahui aturan global tentang investasi. Uni Eropa malah mewajibkan mulai 2016 pembangunan resort harus ramah lingkungan,’ ujar Nilsen.

Selain persoalan tata ruang, dia juga menyoroti ketimpangan kepemilikan aset pariwisata Bali yang saat ini sekitar 85 persen dikuasai oleh orang di luar Bali. Baginya ini merupakan kondisi rawan yang suatu saat bisa memicu konflik sosial. Di mana orang Bali akan terusir dari tanah kelahirannya. ‘Kalau kita tidak waspada, hal itu bisa saja terjadi,’ Nilsen mengingatkan.


Potensi dan Pegangan Hidup

April 15, 2009

Oleh IB Hery J


Matrasparsas tu kaunteya, sitosnasukhadukhadah, Agamapayino’nityas, tams titiksaswa bhatara. (Bhgawadgita, II. 15 ). Artinya: Sesungguhnya hubungan dengan benda jasmaniah, oh Arjuna, menimbulkan panas dan dingin, senang dan duka datang dan pergi, tidak kekal, terimalah, hai Arjuna.

Masyarakat dan kebudayaan manusia baik yang primitif maupun modern di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Dinamika kehidupan masyarakat dan kebudayaan ini membawa konsekwensi suka dan duka pada kehidupan manusia, lebih-lebih kehidupan sekarang berada pada fase transisi sosial. Menurut I Wayan Geria, (1989 : 20 – 22) Transisi Sosial, maksudnya perubahan dari kondisi struktur dan kultur agraris menuju struktur dan kultur industri dengan ciri-ciri antara lain: (1) kehidupan dinamika dan sedang berubah, (2) adanya unsur-unsur lama yang hilang atau ditinggalkan, unsur-unsur yang baru diadopsi, (3) kehidupan manusia, masyarakat dan kebudayaan relatif labil, (4) berkembangnya persepsi, sikap dan interpretasi baru terhadap berbagai unsur, (5) berkembangnya berbagai variasi integrasi dan konflik dalam masyarakat, (6) adanya berbagai pergeseran norma dan nilai dalam masyarakat, khususnya berkaitan dengan perkembangan iptek ekonomi, rasionalisme dan kebebasan, dan (7) Identitas berkembang secara mikro dan makro.

Dalam upaya antisipati terhadap berbagai masalah tersebut bagi manusia dan masyarakat Hindu khususnya perlu adanya pegangan, potensi dan kemampuan sumber daya manusia internal dan eksternal untuk senantiasa dapat tumbuh dan berkembang selaras, seimbang dengan perkembangan lingkungan. Potensi dasar sebagai pegangan hidup bagi masyarakat Hindu dalam membina ketahanan budaya maupun sebagai landasan membina kemampuan untuk berkembang, ada beberapa konsep sebagai berikut

1. Konsep Rwa Bhineda, adalah ajaran dualisme yang merefleksikan bahwa dalam hidup ini selalu ada dua katagori yang berlawanan yaitu, baik dan buruk, sakral dan profan, suka dan duka, hulu dan hilir dan seterusnya.

2. Desa Kala Patra, adalah konsep ruang, waktu dan keadaan yang berintikan penyesuaian atau keselarasan serta dapat menerima keragaman dalam keseragaman atau perbedaan dalam kesatuan. Sehingga dengan demikian memberikan landasan yang luwes dalam komunikasinya ke dalam maupun keluar dan menerima perbedaan dan variasi menurut faktor tempat, waktu dan keadaan.

3. Tri Hita Karana, adalah tiga penyebab kesejahteraan dalam kehidupan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan lingkungannya.

4. Catur Purusa Artha, adalah empat tujuan hidup manusia yang mencakup mencari harta (artha), dan kesenangan (kama). Mencari harta dan kesenangan harus dilandasi oleh kebenaran ajaran agama (dharma) dan akhirnya tercapailah kebahagiaan yang hakiki (moksa). Ajaran ini intinya membina kehidupan yang seimbang materiil dan spiritual di dunia ini dan di dunia akhirat, juga mengandung makna pengendalian diri.

5. Taksu dan Jengah, merupakan dua paradigma dalam kebudayaan Bali yang perlu dihayati dan dikembangkan. Taksu adalah kekuatan dalam yang memberi kecerdasan dan keindahan. Taksi merupakan hasil dari kerja keras, dedikasi, penyerahan diri pada bidang tertentu secara murni dan disiplin. Taksu, sebagai pangkal aktivitas dan landasan kemampuan dalam menghasilkan karya-karya besar. Jengah merupakan dasar sifat-sifat dinamik yang menjadi pangkal segala perubahan dalam kehidupan masyarakat. Taksu dan jengah, dua kekuatan dalam yang saling mengisi secara terus menerus dalam rangka meningkatkan potensi diri menghadapai perubahan lingkungan.

Demikianlah beberapa potensi dan pegangan hidup yang dijadikan landasan berpikir berkata dan berbuat bagi masyarakat Hindu dalam upaya antisipasi perubahan lingkungan sosial budaya dimanapun mereka berada. Potensi dan pegangan hidup tersebut mengacu pada konsep-konsep tradisional yang bersumber pada Agama dan kebudayaan. Dalam kaitan ini peranan pendidikan dalam arti luas dan penguasaan iptek sangat penting.**


Sekilas Semut Sadulur Dan Kala Gotongan

April 15, 2009

Oleh Bhagawan Dwija

1. Arti kata semut sadulur dan kala gotongan. Secara tegas belum ditemukan arti / terjemahannya, namun secara pengandaian atau kias, semut sadulur diibaratkan sebagai semut yang berjalan beriringan tanpa putus. Demikian pula arti kala gotongan dapat diandaikan sebagai kala yang sibuk mondar mandir mengurus sesuatu. Dengan demikian maka pada saat-saat itu dipandang tidak baik untuk melaksanakan upacara tertentu. Seperti yang diuraikan terdahulu, maka letak bintang-bintang di langit sangat besar pengaruhnya pada aktivitas manusia di bumi. Dalam hal ini telah ditetapkan oleh para Maha Rsi di Bali bahwa pada saat semut sadulur dan kala gotongan tidak baik untuk melaksanakan upacara mendem sawa maupun atiwa-tiwa.

2. Pancawara, Saptawara dan uripnya masing-masing :

Pancawara :
• Umanis = 5
• Paing = 9
• Pon = 7
• Wage = 4
• Kliwon = 8

Saptawara :
• Redite = 5
• Soma = 4
• Anggara = 3
• Buda = 7
• Wraspati = 8
• Sukra = 6
• Saniscara = 9

3. Bilamana salah satu Pancawara bertemu dengan salah satu Saptawara berturut-turut selama tiga hari uripnya berjumlah 13 maka dinamakan samut sadulur; bila pertemuan itu berturut-turut tiga hari uripnya berjumlah 14 maka disebut kala gotongan.

4. Contoh :
Kala Gotongan : Sukra Kliwon = 6 + 8 = 14, Saniscara Umanis = 9 + 5 = 14, dan Redite Paing = 5 + 9 = 14. Contohnya lihat tanggal 4,5,6 Januari 2002.
Semut Sadulur : Sukra Pon = 6 + 7 = 13, Saniscara Wage = 9 + 4 = 13, dan Redite Kliwon = 5 + 8 = 13. Contohnya lihat tanggal 1,2,3 Pebruari 2002.

5. Kesimpulan :
• Semut sadulur dan kala gotongan selalu jatuh pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu.
• Semut sadulur dan kala gotongan selalu berturut-turut 3 (tiga) hari.

Demikianlah semoga ada manfaatnya.


Sekilas Fungsi Pelangkiran

April 1, 2009

Fungsi Pelangkiran:

1. Untuk anak yang baru lahir sampai diupacarai 3 bulan, maka dibuatkan pelangkiran dari ulatan lidi/ibus yang berbentuk bulat, digantungkan di atas tempat tidur bayi. Itu adalah stana Sanghyang Kumara yang ditugasi ngemban para bayi.

2. Setelah upacara 3 bulanan sampai terus dewasa – tua, pelangkiran diganti dengan bentuk yang dipakukan ke tembok. Ini pelinggih Kanda-Pat (bukan Hyang Kumara lagi).

3. Pelangkiran juga untuk ‘pengayatan’
a. Sanggah Pamerajan, yang jauh di rantau
b. Bhatara Dewa Ayu Melanting, bagi para pedagang
c. Taksu, bagi para pregina
d. Bhagawan Panyarikan, untuk di ruang rapat/pertemuan.
dll

dari berbagai sumber.


I Sepit Terlantar di Rumah Sakit

March 2, 2009

“Sakit itu mahal!”
“Pelayanan kesehatan hanya bisa diperoleh orang kaya!”
“Untuk bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit harus punya ‘kenalan’ di rumah sakit itu”

Demikian kata-kata yang terbersit di benak I Sepit ketika mengingat saat-saat anaknya menderita sakit thypus dan hasil rujukan puskesmas di kampungnya mengharuskannya untuk dirawat inap di rumah sakit.

Waktu itu di awal bulan Januari, ketika sampai di rumah sakit I Sepit menjadi kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan sementara anaknya harus segera mendapat perawatan.

“Pak, pak, anak saya sakit thypus dan harus dirawat, bagaimana caranya untuk dapatkan kamar?” tanya I Sepit kepada petugas di rumah sakit.
“Bapak harus isi formulir ini dulu, kemudian tunggu sampai ada pemberitahuan apakah masih ada kamar yang kosong” jawab petugas.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya diinformasikan bahwa kamar telah penuh dan anak I Sepit tidak bisa opname di rumah sakit tersebut dan disarankan untuk mencari rumah sakit lainnya.

Akhirnya I Sepit berjalan gontai penuh kekhawatiran akan nasib anaknya menuju tempat parkir sepeda motornya. Di tengah perjalanan tersebut ia berjumpa dengan pria berpakaian rapi dan ternyata adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Karena terlihat putus asa akhirnya dokter baik hati ini mencoba untuk bertanya.

“Kenapa bapak terlihat putus asa seperti itu? Kalau boleh tahu, kesusahan apa kira-kira yang bapak alami?” tanya dokter itu.
“Anak saya sakit thypus dan berdasarkan rujukan puskesmas di desa harus di rawat inap, tapi sampai di sini tidak ada kamar tersedia” cerita I Sepit.
“Coba saya bantu pak, mudah-mudahan masih ada kamar.” sambung pak dokter.

Setelah beberapa saat kemudian pak dokter kembali dan menyampaikan bahwa anaknya I Sepit memperoleh kamar untuk rawat inap di rumah sakit tersebut. Betapa senangnya hati I Sepit bahwa anaknya akan mendapat pertolongan, tak lupa ia berterima kasih kepada pak dokter tersebut.

Selama masa rawat inap tersebut I Sepit mendapat informasi bahwa akan sangat susah untuk mendapatkan kamar di rumah sakit apabila tidak mempunyai kenalan di rumah sakit, dan ia jadi ingat sewaktu mendaftarkan anaknya, padahal pada saat yang hampir bersamaan ia memperoleh informasi kamar sudah penuh tapi kenapa saat seorang dokter menawarkan bantuan dengan cepat mendapatkan kamar??

“Ah mungkin data yang dipegang petugas itu tidak akurat.” pikir I Sepit mencoba berpikiran positif — walaupun tidak tidak lebih dari 15%.

Ternyata benar apa yang dikatakan masyarakat kelas bawah seperti saya ini, sakit menjadi sangat mahal sekarang ini. Perawatan yang memadai menjadi di awang-awang ketika tidak mengerti ‘prosedur’ dan tidak ada persamaan hak. Atau inikah yang disebut phala karma, karena karma yang menjadi sebab miskin dan tidak punya kenalan membawa akibat tidak mendapatkan hal yang layak walaupun hanya perawatan kesehatan? Pantaslah warga yang merasa membayar pajak yang katanya ada bagian untuk pelayanan kesehatan masyarakat, dan pantas pula mereka mengumpat dan berkata sinis kepada petugas pajak yang dikira mengambil uang mereka.

Dari seorang pasien RSJ komplikasi stroke sangat ringan.


Sekilas Perkawinan Adat Bali

February 28, 2009

Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan sekaligus tetapi secara bertahap.

Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa.

Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut “Yatha sakti Kayika Dharma” yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Dalam perkawinan ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.

Pada tahap persiapan, seseorang yang akan memasuki jenjang perkawinan amat membutuhkan bimbingan, khususnya agar dapat melakukannya dengan sukses atau memperkecil rintangan-rintangan yang mungkin timbul. Bimbingan tersebut akan amat baik kalau diberikan oleh seorang yang ahli dalam bidang agama Hindu, terutama mengenai tugas dan kewajiban seorang grhastha, untuk bisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma.

Menyucikan Diri

Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan “Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma pahalaning dadi wang” artinya: dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia.

Berkait dengan sloka di tas, karma hanya dengan menjelma sebagai manusia, karma dapat diperbaiki menuju subha karma secara sempurna. Melahirkan anak melalui perkawinan dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Lebih-lebih lagi kalau anak itu dapat dipelihara dan dididik menjadi manusia suputra, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara.

Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral, oleh sebab itu pada jaman Weda, perkawinan ditentukan oleh seorang Resi, yang mampu melihat secara jelas, melebihi penglihatan rohani, pasangan yang akan dikawinkan. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista, cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas.

Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya, karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. Setelah jaman Dharma Sastra, pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi, namun oleh raja atau orang tua mempelai, dengan mempertimbangkan duniawi, seperti menjaga martabat keluarga, pertimbangan kekayaan, kecantikan, kegantengan dan lain-lain. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan.

Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi, seperti kecantikan fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani.

Natab

Natab

Makna dan Lambang

UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Jadi bagi umat Hindu, melalui proses upacara agama yang disebut “Mekala-kalaan” (natab banten), biasanya dipuput oleh seorang pinandita. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan “Kala Bhucari” sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Makala-kalaan berasal dari kata “kala” yang berarti energi. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad), sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam “sebel kandel”.

Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (Daiwi Sampad). Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari, nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.

Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian, sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai, berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. Peralatan Upacara Mekala-kalaan

1. Sanggah Surya
Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih, dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.

2. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)
Simbol calon pengantin, yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.

3. Tikeh Dadakan (tikar kecil)
Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).

4. Keris
Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.

5. Benang Putih
Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm.
Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.

6. Tegen – tegenan
Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Perangkat tegen-tegenan :
- batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
- Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma
- Periuk simbol windhu
- Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi)
- Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.

7. Suwun-suwunan (sarana jinjingan)
Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita, yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengmbangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.

8. Dagang-dagangan
Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.

9. Sapu lidi (3 lebih) Simbol Tri Kaya Parisudha.
Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna, berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.

10. Sambuk Kupakan (serabut kelapa)
Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.
Telor bebek simbol manik. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.

11. Tetimpug
Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.

Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan “angelus wimoha” yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.

Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.

Dari berbagai sumber.


Besuk ala I Semprong

February 6, 2009

Siang hari itu tampak I Semprong dengan wajah yang keletihan dan mata sayu kurang tidur duduk di lantai di samping kamar nomor 217 sebuah rumah sakit di Denpasar menjaga bapaknya yang sedang opname.

Tak lama kemudian I Sepit, teman sekolahnya semasih SD datang mengampiri dan menanyakan keadaannya dan bapaknya sang pasien.

Kenken itu wajahmu Prong, kok kelihatan kiap sekali? Apakah semalam bapakmu perlu perawatan sehingga kamu bergadang?” tanya I Sepit.

“Weh.. Ada kamu Sepit.. Datang sama siapa? Aku bukannya bergadang karena merawat bapakku, tapi menemani tamu yang besuk semalam…”

“Memang yang datang siap Prong?”

“Kemarin malam datang rombongan krama banjar di kampung sebanyak 15 orang yang ingin besuk bapak, bukannya aku menolak maksud baik mereka yang ingin mengungkapan simpati tapi aku rasa ungkapan simpati mereka jadi kurang pas”

“Kurang pas gimana maksudmu Prong?”

“Coba kamu bayangin, mereka datang beramai-ramai masuk ke ruangan pasien bergerombol, kemudian satu persatu bertanya kepada bapak mengenai keadaannya. Sudah menjadi tradisi dan ungkapan simpati, mereka membawakan minuman, penganan untuk pasien ada yang berupa roti, pisang, dan yang aneh diantaranya adalah snack yang tidak diperbolehkan oleh dokter. Setelah itu mereka duduk di lantai sambil ngobrol yang gak jelas, uniknya lagi mereka sengaja membawa karpet! Ngobrol kesana kemari sambil mengingat-ingat kapan terkahir mereka datang ke Denpasar, siapa saja yang pernah mereka besuk sebelumnya dan yang lain-lain. Setelah beberapa kali mendapat peringatan oleh satpam rumah sakit bahwa jam besuk sudah habis, akhirnya jam 10 malam mereka pamit pulang.”

“Trus gak pasnya dimana?” tanya I Sepit memperjelas.

“Rasa simpati memang bagus dan kadangkala pasien juga memerlukannya untuk kesembuhannya, tapi mereka pasti sudah tahu bahwa pasien juga perlu istirahat, kalau mereka besuk beramai-ramai kemudian mengobrol sampai jam 10 malam bagaimana pasein bisa istirahat. Akupun sebagai pihak yang dibesuk gak bakalan enak hati kalau nyama banjar kutinggal tidur sedangkan mereka masih ada di ruangan pasien. Kemudian hal lain yang perlu diperhatikan adalah barang bawaan untuk pasien. Bukannya aku gak mau menerima barang bawaan mereka, aku justru berterima kasih”.

“Trus bagaimana sebaiknya para pembesuk itu?” tanya I Sepit.

“Pembesuk seharusnya mentaati peraturan dari rumah sakit karena hal tersebut akan mempengaruhi keadaan pasien dan juga keamanan rumah sakit itu sendiri. Tidak semua pasien senang dibesuk, kadang kala mereka ingin suatu ketenangan agar bisa istirahat dan proses penyembuhan lebih cepat. Itulah maksud dari peraturan jam besuk dan harus dituruti, namun demikian apabila sangat mendesak dan penting sekali agar bisa diberikan kebijaksanaan oleh rumah sakit.”

“Kemudian mengenai barang bawaan (biasanya pembesuk membawa barang berupa makanan dan minuman yang diberikan kepada pasien atau keluarga yang menunggu–pen), menurutku apabila mereka ikhlas memberikan sesuatu alangkah lebih baik dan lebih bermanfaat apabila diberikan dalam bentuk uang, bukannya matre ya.. tapi alasanku adalah kalau diberikan dalam bentuk makanan dan minuman belum tentu pasien boleh memakan atau meminumnya jadi kan mubasir?! Tidak demikian halnya apabila diberikan uang karena dengan uang pasien bisa menebus obat yang sangat diperlukannya atau membeli makanan yang dianjurkan oleh dokter untuk mempercepat kesembuhan” papar I Semprong dengan berapi-api.

“Namun…” lanjut I Semprong, “Apapun yang diberikan oleh pembesuk akan diterima dengan senang hati oleh pasien..”

“Ooo, aku mengerti sekarang Prong…” kata I Sepit manggut-manggut.

“Tapi Prong.., I Cang pernah dicuekin oleh seorang warga banjar (nama dirahasiakan oleh I Sepit) karena tidak sempat besuk ke rumah sakit waktu anaknya melahirkan karena dioperasi di rumah sakit, padahal waktu itu aku nitip uang sebagai wujud simpati, tapi tetep saja aku dipisuhin” sergah I Sepit.

“Yah kalau itu tergantung pribadi masing-masing Pit, memang susah menilai karakter masing-masing orang, celebingkah beten biu, don sente don lemo, gumi lingah ajak liu ade kene ade keto” jawab i Semprong.

” Jadi sebaiknya bisa menilai keadaan dan peraturan jangan dilanggar juga..” sambung I Semprong

Akhirnya percakapan di lorong rumah sakit tersebut terhenti dan selesai ketika bapaknya I Semprong diperiksa oleh dokter dan dinyatakan sehat untuk kemudian diijinkan pulang.


Banjar Senganan Kawan

February 6, 2009

Banjar Senganan Kawan berada di wilayah kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Berbatasan dengan di sebelah timur banjar Senganan Kanginan, sebelah utara dengan Banjar Bugbugan, sebelah barat dengan Banjar Bolangan dan sebelah selatan dengan Banjar Pagi.

Desa Senganan

Peta Lokasi

Mayoritas penduduk banjar Senganan Kawan berprofesi sebagai petani namun kemudian tidak sedikit yang beralih menjadi peternak ayam petelor dan sebagian lagi terjun di bidang pariwisata.

Banjar Senganan Kawan saat ini terdiri dari dusun senganan kawan kaja dan kelod, walaupun wilayahnya tidak terlalu luas namun kepadatan penduduknya sudah memenuhi untuk dijadikan 2 dusun.